Globalisasi menyisakan dampak-dampak negatif bagi perkembangan etika moral anak. Pengaruh arus informasi yang deras dan mudah di akses baik melalui komputer, handphone, DVD dsb memberi anak-anak kita tumbuh melebihi usia ya sebenarnya.
Sebagai orang tua dan pendidik kita sering dibuat kaget bahkan shock untuk menerima kenyataan bahwa anak-anak kita telah mengetahui hal-hal yang menurut batasan moral, agama “belum saatnya” mereka ketahui.
Mudah untuk menyalahkan tayangan televisi, akses internet, penyalahgunaan alat komunikasi mobile sebagai kambing hitam penyebab bencana moral ini. Namun Kemajuan teknologi tidak bisa di bendung dan mencari kambing hitam bukanlah sebuah solusi. Berbagai insiden terus terjadi sampai kita bosan dan mungkin akhirnya menerima itu semua sebagai konsekuensi logis dari semakin majunya dunia.
Namun hati nurani kita menyadari bahwa kita berjalan ke arah yang salah, dan direlung hati kita yang paling dalam, kita terus memberontak dan berharap semuanya bisa diperbaiki.
Melalui blog ini saya mengajak rekan-rekan sekalian memberi sumbangsih pemikiran mengenai bangaimana rekan-rekan sekalian melihat masalah ini serta mencari solusi bersama.





7 tanggapan kepada “Globalisasi: Dekadensi Moral di Dunia Pendidikan Kita”
taufik79
Maret 10th, 2008 pada 20:32
salam kenal aja
gigis kintan m
Maret 12th, 2008 pada 16:14
adakah penanggulangan dalam mengatasi masalah ini?
KRISTIADI
April 4th, 2008 pada 08:48
tehnologi tidak dapat kita hindari, tapi bagaimana kita memnfaatkan tehnologi tersebut dengan baik dan bijaksana akan menjadi lebih baik. Orang tua perlu mendampingi anak dalam menghadapi perkembangan tehnologi ini, agar anak tidak terjerumus
mhammad darda
Januari 22nd, 2012 pada 15:59
sekan kita ditangtang untuk bersaing dgn putaran dunia, namun di akui tdk diakui kita kalah dalm persaingan, kenyataanya kita sering kali membelokan setir ke kiri walu hati kecil sering kali menyadari bahwa jaln itu kurang baik. #. ANTISIVASI: 1.HARUS TERDIDIK DI: -1. formal, sekolah yg punya ambisi untuk terbentuknya pribadi yg hasanah bukan sekedar paforit dan mewah saja. 2. non formal, salah satunya harus aktif dikegiatan msjid. 3. in formal, pendidikan ini tdk kalah penting dari pendidikan yg dua tadi, jadikan rumah sebagai kancah pembinaan dan jangan lupa ortu harus menjadi suri tauladan harus bisa menampakan yg baik terlebih dahulu hingga akan terwujud pribadi yg hasanah (kelakuannya dipenuhi dgn tngkah laku yg baik) keluarga yg mawadah warohmah (keluarga yg cinta damai). hehehe.. susah juga ya,,, tapi yakinlh klo kita bisa komitmen dgn hl yg tadi, in Allah akan tercipta qoryah toyibah (LINGKUNGAN YG BAIK), BALDATUN TOYIBATUN WAROBUL GOFUR(negara yg aman,nyaman dan sejahtera juga berada dalam pengampunan ALLAH) b a r a k a d a l a. hapuntena.!
adhiwirawan
Januari 25th, 2012 pada 16:07
Saya pikir memang itu jawabannya, pendidikan terintegrasi antara yang formal (sekolah) dan Informal (Rumah, lingkungan dsb). Sayangnya sebagai guru saya sering mendapati orang tua yang merasa sudah boleh melepas tanggung jawabnya pada sekolah setelah membiayai anaknya sekolah.
mhammad darda
Januari 22nd, 2012 pada 16:01
watur nuun
adhiwirawan
Januari 25th, 2012 pada 16:09
terimakasih kembali atas sumbangsih pemikirannya …