Sewaktu saya mau nulis ini pikiran saya langsung tertuju ke “Laskar Pelangi”, Film besutan Miles production ini berhasil membuka mata masyarakat terhadap dunia pendidikan kita dengan segala plus minusnya.

Film yang yang menggambarkan adanya distorsi ekstrim antara guru sebagai profesi dan guru sebagai sebuah mata pencaharian juga telah berhasil mengingatkan masyarakat tentang esensi penting dari pendidikan.

Film yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata ini menjadi film yang berhasil mengantarkan misi yang diusungnya selain juga memiliki alur cerita yang menghibur, menyajikan eksotisme wilayah kepulauan di propinsi Bangka Belitung.

Pengambilan peran dalam film dari penduduk asli yang netabene bukan para artis ini menjadi nilai lebih yang semakin membawa penonton ke situasi riil pulau Belitong tahun 70han.

Alhasil, Laskar pelangi menjadi sebuah master piece karya sinamatografi Indonesia di tengah keringnya karya-karya film kita dari muatan pesan pendidikan dan kemanusiaan.

Film lain yang wajib ditonton masyarakat khususnya praktisi pendidikan yaitu “Ron Clark Story”.

Film yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan seorang guru matematika teladan yang justru memilih mengajar di linkungan minus, yaitu daerah bronx di New York.

Di sekolah yang didominasis siswa warga keturunan kulit hitam dan hispanik ini, Guru Ron bekerja.

Menghadapi siswa yang sudah divonis sekolah dan siswa buangan ini Ron berusaha mengajar dengan menanamkan keyakinan bahwa siapapun bisa mencapai keberhasilan jika ada keinginan kuat untuk mencapainya.

Produser Hollywood tertarik memfilmkan kisah ini setelah para siswa sekolah tersebut berhasil lulus 100% dengan nilai tertinggi di tingkat negara bagian.

Keberhasilan sang guru menyentuh sisi terbaik dari hati setiap siswanya mampu menggugah mereka untuk berusaha keras dan menunjukkan pada dunia serta merubah persepsi buruk yang mereka sandang sebelumnya.

Totochan, Gadis Cilik di Jendela: Novel tentang sebuah sekolah di Jepang pada era perang dunia ke dua ini sempat menjadi best seller di negaranya. Menceritakan kondisi persekolahan saat itu yang mulai terjangkit semangat kapitalisme.

Totochan seorang siswi yang sangat aktif sehingga sering ditolak atau dikeluarkan dari sekolah akhirnyaa bertemu figur kepala sekolah Sosaku Kobayashi.

Di sekolah yang sebenarnya berupa gerbong-gerbong sekolah ini sang penulis menghabiskan masa kecilnya sebelum akhirnya gerbung-gerbong itu luluh lantak oleh serangan tentara sekutu.

Rasa cinta dan hormat pada sekolah sang pengarang buku (Tetsuko Kuronayagi) beserta teman-temannya mendorong mereka berkumpul secara rutin hingga kini guna mengenang sekolah dan kepala sekolah yang sudah tidak ada lagi.

Denias, Film yang berseting di Papua ini menceritakan perjuangan Denias, seorang anak dari suku pedalaman untuk bisa bersekolah. Film ini menyoroti masih terjadinya diskriminasi di dunia pendidikan kita. Film ini dibuat berdasarkan kisahnya seorang anak Papua bernama Janias.

Sisi menarik film ini salah satunya adalah bagaimana keinginan kuat seorang anak kecil bisa mengalahkan segala halangan baik itu diskriminasi sistemik, ganasnya alam Papua, keterbatasan ekonomi untuk memperoleh haknya yang sebenarnya dijamin oleh konstitusi kita.

About these ads