1. Sumber kemorosotan moral

Keberadaaan peralatan komputer yang dipakai siswa disinyalir menjadi salah satu pemicu berbagai kasus moral yang mengemuka di media masa akhir-akhir ini, seperti perustiwa tawuran pelajar, merebaknya seks bebas dan kecanduan game online.

 2. Tenaga pengajar yang tidak kompeten secara akademis

Sudah menjadi rahasia umum bahwa guru TIK datang dari berbagai latar belakang pendidikan akademis. Ada yang lulusan SLTA, atau Dploma, SE, SH, bahkan sarjana pertanian atau kimia.

Selain ini tidak adanya perguruan tinggi jurusan pendidikan TIK membuat mata pelajaran ini menjadi mata pelajaran tidak memiliki satupun lulusan memenuhi standar kelulusan akademis.

 3.Sulit menyusun kurikulum yang tepat

Kurikulum mata pelajaran TIK memang selalu menjadi polemik dikalangan pendidik. Perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat sulit untuk menyusun kurikulum TIK yang dapat dipakai untuk jangka waktu lama.

 4. Dapat dipelajari secara otodidak

Sulit dibantah bahwa rata-rata siswa mendapat pengetahuan dan keteranpilan TI justru di luar sekolah, misalnya di rumah, warnet membeli buku dsb.

 5. Penyederhanaan Kurikulum

Salah satu konsekwensi dari penyederhanaan kurikulum adalah pengurangan jumlah Mata Pelajaran dan TIK dianggap tepat untuk dihapus dari kurikulum

 6. Penguatan TI pada/ke pelajaran lain

Dengan masih banyaknya guru yang gagap teknologi, khususnya guru mata pelajaran selain TIK, penghapusan mata pelajaran TIK menjadi sinyal kuat bahwa guru mata pelajaran apapun harus menguasai dan memanfaatkan TI dalam kegiatan pembelajaraanya.

Jadi anggapan bahwa penerapan TI hanya untuk mata pelajaran dan guru TIK saja otomatis hilang.

About these ads