Demoralisasi pendidikan dan desakralisasi guru

Bermula dari sebuah keluhan di suatu forum diskusi mengenai betapa menjengkelkannya perilaku anak sekarang. Hampir setiap guru menghadapi masalah serupa. Sikap kurang hormat mungkin menjurus kurang ajar, pergaulan yang terlalu bebas, dan penampilan yang sopan merupakan keluhan umum yang sering kita dengar akhir-akhir ini.

Harus diakui bahwa ada krisis etika di kalangan pelajar kita, menurut saya itulah tantangan kita sebagai pendidik sekarang, setiap generasi menghadapi tantangan dan masalahnya sendiri. dimasa lalu sikap sopan hormat yang cenderung pekewuh membuat kita mudah dikuasai pihak lain.
Ketika atmosfir kebebasan mulai merembas ke negara ini, kita melihat dan merasakan merosotnya etika, moral dan nilai-nilai religi yang dahulu sangat kita junjung tinggi. Arus globalisasi informasi melalui tivi, internet ternyata juga membawa pengaruh buruk.
Tantangan bagi pendidik sekarang bukan lagi bagaimana membuat anak mudah diatur, paham ketika diberitahu, menunduk dan mengangguk ketika dinasehati, mengikuti ketika disuruh.
Meski posisi guru barangkali tidak sakral lagi, profesi guru menuntut kemampuan atau skil mendidik yang senantiasa belajara dari hari ke hari. Jiwa seorang guru harus berani memikul tanggung jawab moral sebagai panutan muridnya dan masyarakat. Kebanggaan sebagai seorang guru adalah saat melihat anak didiknya tumbuh dan berkembang menyerap setiap nilai positif yang didapat untuk bekal hidupnya.
Sekalian mo curhat nih, ketika saya pertama kali memperkenalkan teknologi komunikasi realtime (local chat) pada murid saya, yang saya lihat di layar adalah kata-kata ejekkan dan cemoohan (bahkan makian) diatara mereka. Meski saya sadar komunikasi tersebut hanya sekedar
candaan, saya mulai menyadari keterbatasan mereka dalam mengekspresikan diri (kemampuan verbal dan tekstual). Dalam keseharian harus kita akui bahwa lebih mudah “nyela” dari pada melontarkan pujian, support, apalagi permintaan maaf. Kita (termasuk saya) terbiasa dan terdidik mencari kekurangan seseorang dan mengeksploitasinya pada banyak kesempatan.
Coba tanya kediri sendiri, dalam sehari berapa kali kita mengungkapkan kekecewaan pada siswa kita, berapa kali kita menegur mereka saat mereka kita anggap salah. Kemudian tanya lagi berapa kali kita memberikan dukungan saat mereka berbuat benar, saat kesalahan yang mereka buat tidak diulangi.
Secara obyektif kemampuan mengidetifikasi kesalahan, kekurangan merupakan sebuah skill, yang salah harus dibenarkan dan yang kurang memang harus perbaiki. Tapi jika skil lainnya tidak berkembang, kan kurang fair juga.
jadi…,,,gimana tuh… ???

5 thoughts on “Demoralisasi pendidikan dan desakralisasi guru

  1. djunaedird

    Semua berawal dari rumah. Kalau pendidikan di rumah amburadul, jangan harap hanya sekitar 5 jam per hari kali 6 hari, akan disulap jadi anak baik-baik. Kata Asmuni (alm) ini hil yang mustahal.😛

    Balas
  2. diajeng@MY

    Bijaksanalah…dan jujurlah…mana yang lebih jd “PRIORITAS”, antara ilmu akademik atw ilmu etika??? berapa perbandingan jam belajar siswa antara keduanya??? Apalagi hari2 menjelang UASBN (serasa mw pergi JIHAD aza…gk ortu gk anak, semuanya jadi stressss…. Bisa jadi, urusan pendidikan ETIKA jd agak terabaikan, COZ semuanya musti FOKUS or KONSENT pada hidup matinye UASBN…………

    Balas
  3. adhiwirawan Penulis Tulisan

    Mungkin kita harus belajar berlapang dada, hidup di tengah masyarakat yg “modern” dimana banyak penyimpangan salah-salah kita hanya jadi manusia pengumpat.
    Kalau kata AA Gym semua itu lahan ibadah, kalau semuanya sudah lurus dan benar malah lahan ibadahnya tambah sempit kan?

    Balas
  4. iman sopanda

    Saya ingin sedikit mengomentari tentang anak didik,

    Perkembangan anak sekaran memang lain dengan dulu, yang selalu manut dan hormat atau ada rasa takut, karena nilainya kecil dsb.

    Kita tidak bisa salahkan anak didik, akan tetapi bagaimana kita bisa menyingkapinya,
    – Janganlah seorang guru itu merasa lebih pintar dengan muridnya.
    – Pengentahuan seorang guru harus di tambah terus.
    – Tidak egois karena anak didik tidak nurut, sehingga sering marah2.
    Cara2 menghadapi anak didik dengan cara:

    1. Jadikalah anak didik sebagai teman atau kawan.
    2. Jangan terlalu serius di dalam memberikan pelajaran
    3. Tambah ilmu baik dari segi sosiologi, psykologi.
    4. Berilah PR setiap khir pelajaran dan beri hadiah (nilai tambah).
    5. Belajar sekali-kali di luar kelas.
    6. Timbulkan rasa percaya diri jangan memilah atau memilah setiap anak didik
    7. Apabila ada yang nakal(dekati saja dengan berbicara 4 mata)
    8. Kesabaran
    9. Doa

    Balas
  5. MUTHIA DAN EUNIKE

    KAMI SEORANG PELAJAR SMP
    KAMI JUGA MERASA PRIHATIN DENGAN SIKAP ANAK ZAMAN SEKARANG YANG KURANG SOPAN APALAGI TERHADAP GURU,
    KARNA RATA-RATA TEMAN KAMI JUGA MEMPERLAKUKAN GURU DENGAN KURANGF AJAR BAHKAN MEROKOK WAKTU JAM PELAJARAN DI KELAS DAN WAKTU ITU ADA GURU NYA.
    MORAL ANAK BANGSA SEKARANG SUDAH RUSAK AKIBAT ADANYA FILM-FILM YANG KURANG BAIK DI TONTON GENERASI MUDA,
    DAN TERLALU BANYAK SINETRON.
    KURANG ADANYA ACARA TENTENG PENGETAHUAN…
    TERIMAKASIH.

    Ternyata ada juga pelajar punya sikap seperti ini, barangkali bukan hanya muthia dan eunike saja. Ada yang hanya memendam keprihatinan tersebut, ada yang menyatakannya, dan orang yang berani menyatakan sikaplah yang akan membuat perubahan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s