Teach to learn, learn to share and share to make live better

Belajar adalah sebuah tindakan sadar ke arah pembaharuan sikap, pengetahuan, keterampilan. Kemampuan belajar memang berkaitan dengan kecerdasan. Tapi tentu itu bukan segalanya. Menurut Ali RA, belajar itu membutuhkan tiga hal : Ketekunan, waktu yang lama dan pengorbanan yang besar.

Terus terang saya bersyukur sering menemui orang-orang yang punya punya filosofi belajar yang menurut saya patut diteladani.

Ketika mengajar di lembaga pendidikan non formal (kursus komputer), beberapa siswa saya orang tua yang sudah pensiun atau pejabat yang punya banyak anak buah. ketika saya tanya kenapa masih mau belajar komputer? Jawabannya rata-rata mereka tidak mau tergantung pada orang lain (anak, bawahan).

Meski terus terang kemampuan mereka menyerap pelajaran sudah sangat berkurang dan perlu kesabaran ekstra, kadang saya terharu melihat mereka menyalin dengan rapih dan sistematis setiap materi yang saya sampaikan, dan acap kali bertanya dengan cara yang sangat hormat perihal poin-poin yang belum mereka pahami.

Salah satu kenalan saya seorang pegawai dinas tenaga kerja dan transmigrasi kabupaten bogor yang segera pensiun dan tinggal di wilayah kategori pedalaman. Kalau kami bertemu sering bertukar pikiran mengenai pengoperasian komputer. Saya kagum akan kemampuan menulis arab di komputer yang ia gunakan untuk persiapan ceramah masjid atau lainnya (bedakwah).

Selain itu berbekal telkomnet instan ia pun rajin mencari literatur Islam serta terlibat dalam komunitas muslim. Menurut pengakuannya banyak hal-hal baru yang ia peroleh dari situ.

Di sekolah tempat saya bekerja, ada seorang wakil kepala sekolah yang rajin mengumpulkan artikel-artikel pendidikan. Dirumahnya bertumpuk kertas printout artikel, ebook, serta peralatan komunikasi. Yang membuat saya salut sekaligus malu, kemampuan penglihatan yang sudah sangat terbatas (Monitor 17 Inci pun harus di set ke resolusi 640 x 480) untuk bisa ia baca, selain itu ia selalu membawa kaca pembesar kemanapun ia pergi. Beliau lah yang paling semangat mendukung usul-usul saya berkaitan dengan pengembangan sarana IT untuk kepentingan siswa.

Buat orang seperti mereka, belajar tentu bukan sekedar kebutuhan praktis. Bukan untuk karir, penghasilan, atau pamer kecerdasan, karena semuanya sudah mereka raih. Belajar bagi mereka adalah tradisi, mereka lebih adicted pada prosesnya tinimbang hasilnya. dan belajar menjadi semacam penyakit kronis yang sudah tidak bisa disembuhkan, terus hidup bersama aliran darah mereka.

Terus mencari dan membagi meski harus bertanya pada orang-orang dari generasi dibawahnya. Tidak ada perasaan sungkan, rendah diri. Keterbatasan yang mereka miliki tidak membuat mereka surut.

Buat kita yang dianugrahi daya ingat, kemampuan logika memadai, beban pikiran yang relatif tidak terlalu banyak mungkin cukup mudah memahami atau menguasai sebuah kemampuan atau skill. Buat mereka, perlu waktu yang lebih lama, kesabaran ekstra. Hanya masalah waktu, and it does not matter.

Sungguh ironis ketika saya melihat beberapa siswa yang cenderung mengabaikan pelajaran yang disampaikan gurunya. Sementara pikirannya mengembara ke kantin, teman, acara tivi, PS dan sebagainya. Sementara ruang kelas dan guru yang mererangkan dianggap sebagai siksaan yang diharapkan segera berakhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s