Bagaimana seharusnya pendidikan itu.

Membahas isu pendidikan, setiap orang punya versi idealnya masing-masing. Para pakar dan praktisi lebih-lebih lagi, ada kriteria, filosofi, prinsip, tujuan, metode, strategi, pendekatan, etika, dasar ideologis, historis de el el untuk pendidikan.

Saat ini saya hanya ingin menulis pendidikan versi saya. Hasil renungan, brainstorming dan temuan-temuan lain dari hari ke hari. Jadi kalau ada yang tidak sependapat wajar aja, karena ini hanya penilaian pribadi

1. Pendidikan seharusnya menyenangkan.

Sulit dibayangkan penginstitusian pendidikan mengarah pada sebuah metode penyiksaan bagi anak didik, maupun pendidik.

Meski proses pembelajaran dituntut untuk mencapai target-target tertentu, kita tidak boleh terjebak dalam lingkaran kecil dan mengorbankan waktu perkembangan anak yang begitu berharga dengan pressure-pressure yang justru menjadikan masa belajar menjadi momen-momen menyakitkan yang tumbuh menjadi kenangan pahit untuk diingat saat mereka dewasa.

2. Pendidikan seharusnya lebih mementingkan sikap positif

Diantara Tiga aspek pendidikan, penanaman sikap dan nilai-nilai seharusnya lebih diutamakan. IMHO keterampilan dan pengetahuan hanya bisa dicapai secara optimal dengan sikap positif. Sikap rendah hati tidak merasa paling pintar mendorong setiap oprang mawas diri akan sesuatu yang perlu diperbaiki. Sikap saling suka suka menolong bisa membangun sebuah lingkungan yang sangat kondusif untuk belajar. sikap sopan bisa menciptakan iklim yang baik untuk proses pembelajaran. Sikap obyektif akan kekurangan mendorong orang menyadari bahwa ia harus berupaya lebih keras dari yang lainnya.

Yang saya lihat, sikap, perilaku, penghargaan akan nilai-nilai etika, moral pada institusi pendidikan kita memiliki kecenderungan (tren) menurun pada setiap tahun yang dilaluinya.

Saya masih ingat para siswa kelas 9 yang saya ajar saat mereka baru masuk sekolah 3 tahun lalu. Begitu lucu, sopan, dan setiap mereka memasuki pintu gerbang sekolah, terpancar keceriaan, dan harapan dari wajah meeka (The age of innocent??).

Dengan berjalannya waktu dan berganti tahun para terlihat adanya gejala pergeseran sikap dari para guru dalam menilai perilaku mereka, dari awalnya selalu siap menyambut dengan senyum, menjadi sikap curiga. “abis ngapain nih anak??”, atau “mo ngapain nih nanti di kelas??”

Sebuah situasi pembelajaran yang sangat sangat tidak kodusif, rasa curiga dari guru mendorong berkembangnya kebiasaan mencari alasan (guru lebih sering melihatnya terbalik). Padahal kepercayaan, rendahnya tekanan-tekanan merupakan prasyarat mutlak keberhasilan proses pendidikan.

3. Pendidikan seharusnya murah di mata sumber ilmu, mahal dimata pencari ilmu.

Kita berhutang banyak pada para ilmuwan, apa yang kita kuasai tidak pernah murni dari pemikiran, penelitian mandiri. peradaban dibangun dari proses regenerasi pengetahuan. Hal yang tebaik untuk membayarnya adalah dengan menyebarkan pada semua orang yang mau belajar tanpa terkecuali, tanpa dihalangi keterbatasan usia, kemampuan finansial dll.

Disisi lain pengetahuan adalah aset strategis setiap individu, Kita sadari kekayaan merupakan aset yang menjadi beban pemiliknya. Penampilan fisik juga penting, tapi tidak akan bertahan lama. Pengetahuan merupakan aset pribadi yang harus diupayakan meski tentu perlu pengorbanan, baik waktu, uang, dsb.

Pada masa keemasan Islam, para Imam belajar dengan mengunjungi tempat-tempat yang jauh belajar dari puluhan bahkan ratusan guru selama puluhan tahun dan mengorbankan banyak hal seperti hidup sangat sederhana bahkan kesehatan.

4. Institusi pendidikan seharusnya berusaha menjadi pusat transformasi sekaligus pemeliharaan nilai, sikap, pengetahuan dll.

Saat ini berkembang polemik masih dibutuhkan atau tidaknya pendidikan ter-institusi. IMHO, sekolah tetep harus ada. Meski sumber-sumber informasi, alternatif pengganti sekolah semakin luas. Sekolah tetap punya peran penting dalam menjaga tatanan sosial, budaya, moral dan agama yang baik.

Oleh karena itu sekolah harus memiliki standar nilai yang lebih tinggi dari lingkungan disekitarnya. Harus ada filter yang memastikan sekolah senantiasa steril dari penyakit-penyakit sosial yang mungkin berjangkit diluar. Dalam situasi inilah anak didik belajar membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, sehingga lahir generasi yang memiliki standar moral etik, logik, estitik tinggi dan siap mengambil peran dalam dunia real.

Bagaimana situasi dan kondisi institusi pendidikan kita saat ini?, nilai aja deh sendiri ….

3 thoughts on “Bagaimana seharusnya pendidikan itu.

  1. Umirafif

    Assalamu’alaikum,

    Salam kenal Pak Adhi,
    Setuju Pak, pendidikan paling utama seharusnya adalah pembentukan karakter anak. Selanjutnya bagaimana membuat anak bisa belajar sendiri, dan dia senang melakukan itu. Belajar seharusnya fun, bukan terpaksa.

    Wassalam,
    Umirafif
    Homeschooling Mother
    http://www.daramaina.com

    Menikmati proses belajar memang sangat penting, tapi sebagai seorang yang sedang belajar, ternyata tidak semua pelajaran (dalam arti luas) selalu fun, kadah pahit juga (misalnya di cerita laskar pelangi), yg terpenting buat anak jangan sampai masa-masa belajar mereka menjadi trauma dalam kehidupannya kelak.
    Terus terang kalau saya inget waktu saya sekolah dulu, banyak kesempatan yang saya buang, banyak pelajaran penting yang sebenarnya bisa jadi bekal saya sekarang (misalnya matematika, dulu saya benci matematika).
    Pelajaran Paedagogik juga nilai saya nggak terlalu bagus, tapi banyak yang masih saya ingat dan ternyata banyak manfaatnya.
    Ternyata hal paling menyakitkan dalam proses belajar adalah ketika menyadari kita telah mewarisi sebuah ilmu dan kita tidak lagi sempat membalasnya, meski sekedar mengucapkan terimakasih.
    Buat para guru yang menjadikan saya seperti saya sekarang,……. terimakasih.

    Balas
  2. wyd

    satu lagi postingan yang mendukung pemikiran saya selama ini. saya pikir memang sudah saatnya generasi tua mengubah sikapnya sehingga generasi sesudahnya tidak bertambah buruk.

    Setuju, dan semoga generasi baru pendidik tidak terjebak untuk melihat profesi pendidik sekedar jenjang karis, mata pencaharian, dan status sosial saja, ada misi yang lebih besar dari itu, seperti yang ibu bilang di atas

    Balas
  3. akhario

    terima kasih mas…. artikelnya belum lengkap soalnya juga baru kemarin online dan kami juga masih uas, insya Allah nanti kita lengkapi… oia… mas makasih juga telah mendaftar di sahabat-komputer.com dan tadi sudah saya aktifkan jadi author…
    sukses….. artikelnya di blog mas keren-keren…..🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s