Akan adakah kedamaian di Timur Tengah?

Konflik tanpa henti di timur tengah menjadikan wilayah ini untuk kesekian kalinya menjadi pusat perhatian dunia. Perteentangan antar berbagai kepentingan yang melibatkan emosi mulai dari level grass root hingga elit politik berbagai negari termasuk negara adi daya Amerika Serikat, Liga Arab dan negara-negara Islam, Kamum yahudi, vatikan, hingga PBB menggambarkan betapa rumitnya benang kusut di wilayah ini bisa diuraikan.

Beberapa upaya serius yang diprakarsai berbagai pihak menuju perdamaian “yang lebih permanen”, selalu menemui jalan buntu dan berakhir pahit.

Sebuah buku karangan seorang orentalis Karen Armstrong berjudul Yerusalem, Satu Kota, Tiga Tuhan mungkin bisa menggambarkan beberapa dimensi kepentingan yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung di wilayah ini.

Ditambah perkembangan-perkembangan politik, perubahan peta kekuatan militer, ekonomi, dan populasi menjadikan jalan menuju tercptanya perdamaian di timur tengah menjadi semakin sulit dicapai.

Yang menarik, setiap terjadi peningkatan eskalasi politik militer di wilayah ini setiap kelompok agama (Islam, Yahudi, Kristen), serta merta mengaitkannya dengan ramalan dari agama masing-masing tentang kemenangan, kejayaan dan kehancuran suatu kelompok agama atas agama lainnya.

Ramalan akan “perang akhir zaman” kemudian menjadi acuan wajib tentang kenapa dan bagaimana semua ini telah bermula dan harus berakhir.

Keinginan untuk menjadi pelaku atau setidaknya saksi akan terpenuhi-nya ramalan tersebut begitu menggelora dari setiap kelompok agama. Tidak ada harapan terwujudnya timur tengah yang damai. Dan penumpasan satu kelompok atas kelompok lain adalah solusinya.

Permasalahan yang terjadi saat ini tentu tidak sesedarhana itu, peta kepentingan “yang bermain” di dalam konflik-pun terdiferensiasi kedalam misi dan kepentingan yang lebih luas. Hubungan unik antara kepentingan Israel dan suksesi kepemimpinan di Amrika misalnya menjadi bagian sulit dipahami pihak lain. Kemudian poros Yahudi-Vatikan yang memiliki dimensi inter dependensi kekhawatiran, kebencian dan dendam yang dalam beberapa momentum sempat memanas, seperti propaganda publikasi produk sinema, buku dll. Membuat setiap kelompok harus terus waspada terhadap setiap perubahan peta kekuatan yang berkembang.

Disisi lain, Negara dan umat Islam pun menghadapi masalah internal yang tidak kalah berat. Tekanan-tekanan yang dihadapi berbeda, beberapa negara yang berbatasan langsung dengan Israel, harus berhati-hati mengekspresikan sikap terhadap setiap perkembangan yang terjadi. Tanah dan darah rakyat mereka yang menjadi taruhannya. Dan di setiap negara itupun, terbagi dalam beberapa fraksi yang saling tarik ulur kepentingan. Setiap sikap didasari latar belakang yang panjang dan tidak fair jika langsung dituding sebagai sikap yang salah.

Tumbuhnya kelompok-kelompok Islam di berbagai benua seperti Amerika, Amerika Latin, Kanada, Eropa membuat posisi tawar Kepentingan Islam di Amerika tidak bisa diremehkan lagi. Lobi-lobi Islam yang meski tertinggal beberapa langkah dari Israel mulai menemukan bentuk yang semakin terorganisir dan mapan.

Didalam tubuh pemerintahan Israel sendiri, Menguatnya paham zionis dan tekad menjadikan wilayah Israel yang berdaulat dengan ibukota Yerusalem semakin kental.

Suksesi kepemimpinan yang bergerak ke kelompok pro penyelesaian militer, menjadikan benturan kepentingan dua agama semakin intens dan keras. Hal yang sama terjadi di Paletina dan Mesir.

Melihat realitas ini, masihkan keinginan mewujudkan Timur tengah yang damai menjadi sebuah harapan yang relistis?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s