Metode Ceramah: Why Not…?

Dunia pendidikan berkembang, strategi, metode, paradigma baru bermunculan, ketika saya menuntut ilmu, wacana hangat yang sering diperbincangkan adalah betapa tidak efektifnya metode ceramah.

Saat ini pun pro kontra masalah ini masih sering kita dengar. Setelah lama merenung, muncul gagasan dibenak saya bahwa ke depan mungkin metode mengajar paling konvensional ini bisa menjadi alternatif yang tetap diperlukan dalam proses pembelajaran.

Gagasan ini muncul bukan tanpa sebab, salah satu faktornya adalah perkembangan teknologi yang mendukung seperti multimedia media proyektor, teknik broadcast audio video dsb. Mungkin dengan tambahan fasilitas teknologi akan menjadi rancu antara metode ceramah dan demonstrasi. Let it be, silahkan berdebat masalah ini.

Faktor lain adalah kekaguman saya akan berkembangnya acara-acara tivi yang menampilkan presenter-presenter muda berbakat. Terus terang ini sangat menginspirasi saya. Seandainya semua guru bisa berkomunikasi dengan audiens sebaik mereka (this my major problem :D), pasti ceramah di kelas bisa menjadi momen-momen menarik bagi peserta didik.

Apa kita para guru harus ikut kursus kepribadian agar bisa menyampaikan misi pendidikan / pengajaran secara efektif tapi tetep fun ya? atau cukup dengan latihan di depan cermin ?

Coba lihat mas Tukul yang dengan luwes, berlenggak-lenggok jungkir balik di layar kaca dan berhasil menyedot perhatian kita. Atau para juri lomba bakat yang mengkritisi kontesten dengan begitu cerdas, diselingi arahan presenter yang me-manage waktu dan memfokuskan pada konsep program acara. Terus terang saya iri atas kemampuan mereka.

Dalam dunia IT kita mengenal banyak Entrepreneur yang relatif masih muda Menjelaskan visi perusahaan yang sukses dikelolanya seperti Worpress, Google, Facebook, Wikipedia, Linux

Dengan dibantu perangkat teknologi canggih, pidato atau demo mereka tersebar di yotube, facebook dan di download banyak orang.

Mungkin fungsi guru mengalami reposisi dan tidak lagi sebagai orang yang serba tahu, dan proses pembelajaran yang berorientasi pasa aktifitas peserta didik, metode ceramah tetap penting untuk mengarahkan siswa agar memanfaatkan sumber-sumber belajar secara efektif.

Jadi melihat situasi ini, berlebihan nggak ya kalau momen sekarang ini disebut sebagai “the second rise of speech menthod“?.

7 thoughts on “Metode Ceramah: Why Not…?

  1. wyd

    mungkin bedanya, metode ceramah guru sebaiknya ga ceramah dulu sampe selesai baru kemudian sesi pertanyaan, tapi siswa dapat langsung berinteraksi lewat pertanyaan atau sanggahan saat ceramah sedang berlangsung. itu kenapa metode ceramah murni ga sepenuhnya bisa dijalankan di kelas.

    apalagi kalau nanti anak2 akan mengkopi file pendukung ceramah, wah… kita harus antisipasi dengan virus. ngirim ke email anak satu2 bukan perkara mudah. meng-upload di blog atau website, belum tentu si guru punya blog atau website sendiri. ke website sekolah, terlalu umum, belum tentu anak2 akan mampir untuk men-download-nya.
    serba salah🙂

    Balas
  2. adhiwirawan Penulis Tulisan

    waduh nyiapin virus nambah kerjaan dong, belum kalau ada yg tau web kita di-inject, bisa kena blacklist, panjang tuh urusan.
    Mengenai interupsi saat ceramah, emang lebih bagus dan lebih demokratis, masalahnya itu perlu pembiasaan. Dan kesamaan sikap semua guru. Masih ada guru yang nggak suka di interupsi.
    jadi siswa takut dan hanya mendegarkan sambil berharap jam pelajaran segera habis.

    Balas
  3. m_godel

    saya setuju dengan metode pembelajaran seperti mc, lebih interaktif, klo dosen kampus biasanya bikin boring bangett, secara, kampus gue kampus teknik dan jarang ada cewenya..
    hiks

    Balas
  4. adek

    Memang kadang kita tergiru dengan teknik atau metode mengajar yang modern dan canggih🙂 namun semua itu tergantung pada kemampuan guru atau dosen sebagai failitator dan motivator. Dan ini tidaklah mudah. jadi metode ceramah pun bisa saja memukau siswa dan mahasiswa kok, dan akhirnya materi ajar pun tersampaikan ke kepala siswa dan mahasiswa hehehehe

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s