Kekerasan guru terhadap siswa, pro atau kontra?

Dewasa ini tindakan kekerasan (hukuman) guru terhadap anak  sering menjadi bumerang dan berbalik ke guru dan sekolah. Menghadapi isu ini banyak pengambil kebijakan sekolah mengambil jalan aman dengan mewanti-wanti para guru agar tidak menerapkan hukuman fisik pada siswa.

Kehawatiran sekolah cukup beralasan mengingat dalam beberapa kasus tindak kekerasan yang dilaporkan baik kepada aparat penegak hukum atau media masa berdampak buruk bagi karir guru serta citra sekolah dimata publik.

Hukuman (dan penghargaan) adalah bagian dari metode pendidikan, lalu apakah hukuman fisik seperti menjewer, menampar atau tindakan fisik lainnya bisa dibenarkan?

Ada dua kasus menarik yang terjadi di lingkungan sekitar saya. Pertama mengenai seorang anak (dari rekan guru), yang ditampar dan berakibat luka pada matanya. Meski telah diselesaikan secara kekeluargaan, ternnyata ada beban mental yang dipkul si anak untuk terus bersekolah disitu.

Kasus kedua menganai seorang kerbat guru yang dilaporkan kepolisi karena menampar siswanya. Sekali lagi ini bisa diselesaikan secara baik atas bantuan mediasi sang kepala polisi.

Kepada orangtua pelapor dan siswa korban, ia menceritakan pengalamannya saat sekolah dan sering dijewer, ditampar guru. “Kalau saya dibiarkan berbuat nakal, barangkali saya tidak akan jadi seperti sekarang ini. Malah jadi pencuri atau pelaku kriminal lainnya” jelas sang kepala polisi waktu itu.

Kembali ke duduk permasalahan, apakah hukuman fisik di sekolah masih bisa di tolerir?

4 thoughts on “Kekerasan guru terhadap siswa, pro atau kontra?

  1. ompundaru

    Kunjungan balik.. Terima kasih udah mampir di blog OmpuNdaru.
    Artikel ini menarik.. Pertanyaannya, apakah tidak ada hukuman yang bisa disesuaikan dengan keadaan fisik dari anak itu sendiri, atau apakah memang harus hukuman secara fisik diterapkan..? Ternyata dijaman yang sudah maju ini tetap ada slogan “Di ujung rotan ada emas”. Padahal secara logika, di ujung rotan tetap ada “sakit”.

    Salam,
    OmpuNdaru

    Itulah pertanyaan saya, masih relevankan hukuman fisik di sekolah?. Kalau seorang pendidik dianggap tabu menyentuh anak, dalam situasi tertentu beberapa masalah sederhana akan sulit diatasi.
    Ada argumentasi bahwa kehidupan di luar rumah / sekolah cukup keras, lebih baik mengajarkan rasa sakit atas dasar kasih sayang sebelum anak merasakan sakit yang didasari kebencian, motif ekploitasi, atau ketidak adilan.
    Disisi lain, anak tentu bukan tempat pelampiasan stress atau musuh yang mengancam kewibawaan guru.

    Balas
  2. masedlolur

    Sikon para stakeholders yang tidak menghendaki, seorang guru bertindak kasar secara fisik kepada peserta didik. Sebenarnya dulu pun mestinya begitu, tetapi waktu itu sikon stakeholders memungkinkan karena mereka tidak ambil peduli.

    Hanya yang perlu dicatat, mereka yang terlanjur memberikan hukuman fisik itu “hanyalah oknum guru”, sebab kalau digeneralisasi, nanti kesimpulannya ngga valid lho!

    Jadi, guru mesti bergeming pada “joyful learning”, begitu?
    Tapi setidak-tidaknya ulasan Anda ini membuka pencerahan

    Balas
  3. Lusy Mardiani, S.Pd

    (*ikut nimbrung) menurut saya hukuman fisik atau verbal tidak diperbolehkan lagi. Buat saya lebih baik memberi hukuman yg ‘mendidik’ ( misal tulisan si anak kurang bagus, maka dia diberi sanksi menulis di buku tegak bersambung, atau diberi latihan2 soal yg di bidang tersebut si anak kurang mahir, dll…pokoknya sanksi yg mendidik). Bukan dengan kata2 yg tidak pantas dikeluarkan dari mulut seorang pendidik..
    Anak saya menjadi salah satu korban ‘kekejaman’ oknum pendidik. hasil ulangan anak saya yg baru kelas 1 SD dan bersekolah kurleb 2-3 bulan diberikan dengan cara diremas2 dan dilemparkan !!! Ketika saya bertanya kepada oknum guru tersebut, “beliau” menjawab UNTUK MEMBERI PENDIDIKAN. (# gubrag…pendidikan jaman manusia barbar bu ?). Kekejaman kedua adalah teman anak saya ( sedikit bandel memang) di beri sanksi dengan cara DILEMPAR OLEH SEPATU BU GURU !!!. Jewer kuping, sentilan di mulut, jambakan rambut, tanparan oleh buku adalah makanan sehari2 anak kelas 1 SDN O4 pagi kelapa gading timur jakarta utara. kejadian yg baru menimpa kembali kepada anak saya adalah badan anak saya berwarna ungu akibat cubitan bu guru plus bonus kata2 BODOH DAN BEGO !!!!.
    saya sebagai orangtua amat sangat tidak mengerti mengapa harus kekerasan yg ditonjolkan ketika KBM di kelas berlangsung ?
    Buat saya oknum pendidik yg ‘hobi’ mengumbar kekerasan adalah PENDIDIK YG MISKIN KREATIFITAS dan tidak layak mengajar di dalam kelas….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s