Terorisme, indikasi kegagalan sistem pendidikan kita

Ledakan di Ritz Carlton Hotel (sumber: Detik.com)

Ledakan di Ritz Carlton Hotel (sumber: Detik.com)

Ketika bom itu meledak di hotel Ritz Carltol dan beberapa tempat lain di Jakarta dengan menelan korban belasan orang, tudingan langsung mengarah ke kelompok Jaringan terorisme yang baru-baru ini diburu pemerintah. Berbagai analisapun mulai bermunculan di berbagai media.

Berita hangat lainnya adalah kematian siswa SMA Surabaya akibat kekerasan fisik dalam pelaksanaan orientasi siswa. Barangkali ada benang merah yang bisa kita hubungkan dari kedua peristiwa di atas.

Kita ketahui bersama, para teroris asal indonesia itu pernah menjadi siswa dengan prestasi tinggi di sekolahnya. Artinya rata-rata mereka adalah produk pendidikan unggul yang memiliki kemampuan intelktual di atas rata-rata. Akan tetapi dengan kelebihan itu, mengapa mereka masih bisa terjerumus ke dalam kelompok radikal meski sering atas dasar pembenaran agama terprovokasi dan bukan tidak mungkin dieksploitasi untuk mengekspresikan kemarahannya dengan menyebar teror.

Sementara itu di sisi lain, aksi kekerasan, intimidasi, unjuk kekuasaan di sekolah menjadi tradisi tahunan yang acap memakan korban. Militansi senioritas diekspresikan melalui tindakan intimidatif dengan melakukan agresi baik fisik maupun psikis terhadap para junior untuk mempertegas fakta perbedaan struktur senioritas-junioritas dan penguasaan manusia atas manusia lainnya.

Inti dari masalah-masalah di atas adalah hilangnya penghargaan rasa kemanusiaan, empati dan egalitarian. Ketika “Kehormatan” sebagai senior atau sebagai manusia merasa perlu mendapat pengakuan, Upaya-upaya yang dilakukan sering melampaui batas dan nilai-nilai yang berlaku dimasyarakat juga standar nilai yang bersifat universal seperti agama.

“Amarah tidak pernah tanpa alasan, akan tetapi jarang atas alasan yang benar” (benyamin Franklin), kemarahan yang bersifat spontan meski merugikan jarang menimbulkan efek domino. Yang lebih berbahaya adalah kemarahan atas alasan dan tujuan yang “dianggap” benar, kemudian diekspresikan dalam bentuk tindakan agresif sistematis.

Kemarahan ini akan menkristal menjadi radikalisme dan bersifat laten, membangun mata-rantai doktrinisasi kebencian yang panjang, meracuni budaya masyarakat dan keyakinan kelompok-kelompok yang membangun tradisi balas dendam yang tidak berkesudahan.

4 thoughts on “Terorisme, indikasi kegagalan sistem pendidikan kita

  1. yusuf

    bagaimana dengan homeschooling?
    bisakah menjadi alternatif?
    ini salah satu situsnya

    Saya anggap ini sanjungan, thx. padahal saya sekedar mengekspresikan kegalauan yang saya yakin dirasakan juga oleh banyak orang.
    Saya sependapat bahwa di era cyber democracy ini, ada alternatif untuk mengekspresikan kemarahan secara terbuka meski tetap terikat pada batasan etis (netique).
    Kekuatan komunitas online ternyata cukup besar posisi tawarnya, seperti dalam kasus Bu Prita. Kalau Kekuatas represif bisa dilawan tanpa harus menumpahkan darah misalnya dengan menggunakan media komunikasi global, bisakah senjata-senjata pemusnah masal itu dikurangi?

    Balas
    1. adhiwirawan Penulis Tulisan

      Begitulah pak Dadang, barusan saya baca ternyata usia pembom di ritz antara 17 – 18 tahun.
      Usia yang secara emosional, spiritual masih labil.
      Disinilah saya melihat pendidikan memegang peran penting agar generasi muda kita tidak mudah dipengaruhi ideologi kekerasan, seperti ektrimisme dan radikalisme.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s