Facebook ooh facebook

Hari Jum’at sore saya dikejutkan dengan berita di media online mengenai terjadinya penculikkan siswi SMP oleh teman vitualnya (baca facebook). Pemberitaan
mengenai kasus itu terus dilansir berbagai media hingga pelaku penculikan beserta korban berhasil ditemukan.
Modus kejahatan kategori internet predator atau lebih spesifiknya lagi facebook predator memang sudah lama mejadi keprihatinan yang cukup mendalam buat saya sebagai pendidik.
Hari selasa, saya melempar wacana memblok situs facebook secara permanen di sekolah melalui status facebook dan mendapat respon penolakan dari beberapa siswa.
Jujur, saya tidak sungguh-sungguh dengan niat itu, dan respon berupa komentar dari siswa telah sesuai dengan harapan.
Hari Rabu ketika akan memulai kegiatan pembelajaran di labkom tiba-tiba listrik padam akibat gangguan daya sehingga saya terpaksa saya mengajak siswa kembali ke kelas.
Pada kesempatan itu kami berdialog mengenai kasus penculikan yang terjadi. Ternyata cukup banyak siswa yang telah membaca berita tersebut. Dalam dialog itu saya manfaatkan untuk menerangkan beberapa isu seputar manfaat dan resiko berinteraksi di dunia maya.
Beberapa istilah seperti cyber crime, internet predator, online trafficking, netique sedikit saya terangkan pada mereka. In the other side, kami membahas pula mengenai kekuatan komunitas seperti jejaring sosial FB dalam membangun kesadaran bersama mengenai suatu isu sperti dalam kasus Prita Mulyasari dan KPK.
Diakhir pelajaran sesuai dengan salah satu kompetensi dasar kurikulum sekolah mengenai pemanfaatan salah satu layanan internet, saya tugaskan siswa untuk membuat sebauh cause di facebook secara klasikal.
Malam harinya ketika melakukan surfing melelui O2 XDAIIs saya, di situs berita okezone, mata saya terpaku pada sebuah judul berita “Siswa Depok Dilarang Buka Facebook”. Setelah saya baca ternyata inisiatif itu datang dari pemerintah kota Depok.
Dalam berita ditulis “para kepala sekolah, guru dan pengawas sekolah dipanggil untuk untuk membuat kesepakatan atau perjanjian (MoU) melarang dan memperketat siswa keluar sekolah dan bermain facebook di warung internet (warnet).
Dalam penjanjian juga disebutkan , kepala sekolah akan mengundang para orang tua untuk membina anak-anaknya soal bahaya faebook.
Dari pemberitaan selanjutnya saya menangkap bahwa pihak sekolah setuju dan akan menerapkan hal itu di sekolahnya masing-masing.
Sebagai praktisi pendidikan bidang TI, saya melihat sikap pemerintah terhadap pendidikan khususnya isu penerapan TI di sekolah cukup responsif. Selain itu momentum yang diambilnya pun sangat tepat. Kekhawatiran dampak negatif teknologi informasi bagi pelajar memang menjadi kekhawatiran tersendiri yang perlu disikapi secara sangat serius jauh sebelum ini hingga pada waktu-waktu yang akan datang.
Pada saat yang sama saya berharap (despretelly hope actually) bahwa langkah yang telah diambil pemerintah kota Depok bisa mejadi obat mujarab mengatasi kejahatan facebook predator, pornografi dsb.
Namun, sebagai pemerhati TI, sebagai praktisi pendidikan, sebagai pengguna facebook, dan sebagai orang tua terselip kekhatiran atas langkah pragmatis yang dilakukan itu.
Alasan pertama, para facebooker saat ini telah menggunakan berbagai media selain warnet, kita bisa menggunakan HP bahkan yang paling jadul untuk ber-facebook. Dengan mengamati indikator pada setiap status yang di-update siswa sekolah saya, terlihat penggunaan media seluler.
Belum lagi metoda akses internet lainnya seperti laptop, komputer rumah dll.
Alasa kedua, terbersit kekhawatiran pelarangan ini justru menjadi pemicu siswa berfecebook secara sembunyi-sembunyi. Jika ini terjadi justru akan menjauhkan siswa dari pemantauan orang tua dan guru. Dampak yang sangat tidak diharapkan adalah pengguna facebook untuk sebatas hiburan dan kegiata positif justru berkurang dan pemanfaatan facebook pada aktifitas yang sulit dipertanggung-jawabkan malah meningkat.
Mengenai pelarangan kunjungan ke wanet, dari pengamatan saya, pelarangan terhadap usaha PS, game online untuk tidak menerima siswa berseragam pun tidak efektif. Kebutuhan untuk mengejar setoran lebih menjadi prioritas dibandingkan mengikuti anjuran pemerintah
Isu pemanfaatan facebook untuk aktifitas cybercrime telah menjadi perhatian khusus pihak pengelola situs itu. Fenomena kejahatan dengan memanfaatkan jejaring sosial facebook tentu tidak membuat happy dan sangat merugikan kang Mark Zuckerman yang juga seorang akademis ini.
Beberapa pembaharuan fitur keamanan, serta pengontrolan konten menunjukkan betapa sangat seriusnya pihak pengelola situs agar tetap jauh dari para facebook predator, aktifitas pornografi baik yang sifatnya terorganisir maupun tidak.
Di era dimana teknologi sudah menjadi seuatu keharusan dan bukan merupakan pilihan, kita semua menyadari adanya dampak negatif yang mungkin terjadi.
Para praktisi TI yang peduli akan isu ini pun telah bekerja keras dengan telah berbuat banyak dalam mengatasinya. Penyaringan situs menggunakan DNS yang lebih selektif, pendistribusian perangkat lunak penyaring secara gratis, anjuran pembentukan posko internet sehat, keegiatan-kegiatan edukasi baik yang diorganisir pemerintah, swasta maupun pribadi. Kesemuanya merupakan mata-rantai upaya untuk mereduksi dampak negatif TI bagi generasi muda.
Pada simpul terakhir, pertahanan berada ditangan para pelaku sendiri khususnya siswa. Pembangunan kesadaran resiko melibatkan diri di dunia maya merupakan harapan terakhir agar mereka terhindar dari intaian penjahat internet yang senantiasa mengintai mangsanya.
Pun begitu, like this real world, tidak ada jaminan keamanan seratus persen terlepas dari tangan-tangan kotor pihak yang tidak bertanggung jawab. Meski pahit, itulah realitas yang harus kita hadapi dan tantangan terberat orang tua, guru, sekolah dan pemerintah.
Pada akhirnya saya kembali teringat sebuah kutipan yang sering saya tulis di buku tahunan siswa dari tahun ke tahun : “ Seekor anak burung yang terjatuh dari ranting yang rapuh, akan jatuh ke tanah dan mati, dan tak ada seorang pun peduli….”

7 thoughts on “Facebook ooh facebook

  1. abah

    betul, om.. ngeri memang!
    tapi yang jelas, semuanya mesti berawal dari rumah… maksudnya, kita sebagai ortu harus lebih ketat//wasdal ke anak-anak kita terutama mengenai pendidikan, dasar agama, akhlak, attitude dan hal mendasar lainnya yang ditanamkan sejak dini. karna kalo udah diluar, sapa yg tau anak kita bergaul, bagaimana dan dengan siapa??
    dengan demikian, mudah-mudahan generasi kita bisa lebih terarah ke hal yg positif.

    Balas
  2. yanti yulianti

    Saya kira memang penting pembatasan usia untuk mengakses web di Internet. Seperti juga pembatasan anak menonton acara tv. Saya biasakan menonton apa yang anak saya tonton, dan mengetahui apa yang anak saya akses di Internet. Tetapi, yang paling penting adalah memberikan batasan dari dalam diri anak, membuat anak menjadi pribadi yang kuat, bisa membedakan mana yang baik dan buruk, dan landasan agama tentunya.

    Balas
  3. BENY KADIR

    Menarik sekali isu yg ini,Pak.
    Sebagai org tua kita kwatir akan anak2 kita dari pengaruh dan resiko terburuk dari dunia maya.
    Cuma keluarga dan sekolahlah yg menjadi tumpuan harapan agar memberi arahan dan kesadaran tentang itu.
    Terimakasih dan salam,Pak.

    Balas
  4. wyd

    waduh mas, saya jadi penasaran apa sih kekuatan facebook selain sebagai jejaring sosial sampe yang dibahas di banyak blog?
    mas, thx yah atas segala komentarnya di blog saya selama ini. sorry nih kalau saya ada salah2 kata. saya mau rehat panjang. mungkin balik, mungkin ga😦

    anyway take care

    Balas
    1. adhiwirawan Penulis Tulisan

      Yah sepertinya memang facebook menjadi semacam revolusi pada konteks tertentu di dunia maya. sampe ponakan saya yang masih TK aja minta dibuatin facebook…😀
      Sebagai pendididik dan blogger saya merasa punya kewajiban mengemukakan beberapa point yang saya anggap penting seputar isu ini.
      Sayapun mohon maaf ya bu wid, dan berharap semoga senantiasa diberikan kesehatan, kecemerlangan pikiran dan kepedulian pada generasi penerus…
      hope all the best thing is for you …..

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s