Ahli Ibadah dan ahli sedekah

Kadang, kita tidak bisa memilih teman, meski sudah membuat kriteria orang seperti apa yang ingin kita pilih sebagai teman, atau orang tua kita memberi nasehat agar hati-hati dan selektif dalam mencari teman.

Pada akhirnya orang-orang yang dekat dengan kita dalam waktu yang lama itulah yang menjadi teman kita. Dan kita kemudian berusaha menerima mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai teman kita. Alih-alih memaksa mereka menjadi seperti yang kita inginkan atau menjauhi mereka karena tidak sesuai dengan kriteria kita.

Kebetulan dalam perjalanan hidup saya, saya dipertemukan dengan dua orang teman yang memiliki sifat yang melebihi kriteria yang saya inginkan. Katakanlah si fulan di si fulon. Saya tidak menyebut nama aslinya dengan pertimbangan ada yang tidak sependapat dengan saya atau jika mereka tau, mereka berubah tidak seperti teman yang saya kenal lagi.

Si fulan Alhamdulillah seorang yang saya sebut sebagai ahli ibadah, khususnya sholat lima waktu. Dia yang sangat disiplin menjalankan sholat wajib tersebut. Terlebih dari itu dia adalah teman yang senantiasa mengingatkan kami ketika waktu sholat tiba dan mengajak sholat berjamaah.

Ada suatu peristiwa yang selalu saya ingat. sekitar tiga puluh tahun lalu , ketika kami masih sering mencari pekerjaan ke Jakarta. Kami menggunakan kendaraan umum keberbagai jalan di Kota jakarta. Sore hari ketika kami bertiga sudah lelah dan duduk di kursi belakang sebuah mikrolet menuju Depok. Hari sudah senja ketika terdengar alunan azan magrib. Mikrolet kami saat itu terjebak macet tepat di depan stasiun Pasar Minggu.

Fulan Serta merta bangkit dari kursi dan mengajak kami turun dari bis mencari musholla yang biasanya ada di Stasiun. Saya ingat, waktu itu kami menolak dengan pertimbangan bisa menjamak dan bis sewaktu-waktu bisa berjalan lagi. Selain itu kondisi bis yang penuh dan kita yang merasa lelah rasanya sayang kalau pun bisa kembali ke mikrolet dan harus berdiri sampai Depok.

Akhirnya tanpa berfikir panjang, fulan turun dari bis dan menghilang dari pandangan kami. Selang lima sampai sepuluh menit bis belum bergerak dan fulan sudah kembali duduk dikursinya yang masih kosong.

Kami bertiga hanya terdiam, termasuk fulan tidak mengatakan sepatah katapun. Hal yang berkecamuk dihati saya saat itu adalah perasaan malu pada diri sendiri sekaligus kagum akan sikap istiqomah nya.

Teman satu lagi adalah si fulon, dia seorang yang sangat periang. Saya menyebutnya teman ahli sedekah karena kedermawanannya. Dia adalah teman yang paling memikirkan temannya dalam hal paling kecil sekalipun seperti makanan.

Karena kami bertiga ngekost bersama, dia selalu membeli indomie untuk bertiga terutama kalau memasuki tanggal tua. Selain itu salah satu kebiasaan yang membuat saya kagum, meski mengendari motor dia selalu menyediakan receh di kantung baju. Dan jika ada pemungut sumbangan mesjid atau anak yatim atau acara keagamaan di pinggir (kadang di tengah) jalan dia hampir selalu sempat merogoh kantung baju dan memberikan sumbangan. Sementara kami kadang cuma bisa berdebat apa sumbangan seperti itu benar sampai ke yang berhak atau hanya bentuk lain dari pengemis jalanan.

Satu hal lain dari kebiasaan si fulon adalah berkurban di hari raya Idul Adha. Itu selalu dia lakukan sejak pertama kali dia mulai bekerja. Awalnya dia patungan dengan saudara kembarnya, kadang dibantu kakaknya yang sudah mapan jika kurang.

Lalu dia mulai menabung sepanjang tahun agar bisa berkurban seekor kambing sendiri setiap tahun. Dan itu terus dia lakukan sampai sekarang sampai usia kami mejelang pensiun.

Beberapa tahun belakangan saya mengetahui bahwa dia menanggung sebagian kebutuhan hidup putri teman kami yang sudah meninggal lebih dulu dari kami.

Itulah sekilas persahabatan kami bertiga. Dipertemukan oleh takdir dan mudah mudahan kekal sampai hari akhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s