Arsip Kategori: Jurnal

Dari Reuni SPG Negeri Bogor 2011

Reunian lagi, ketemuan lagi…, Nggak tau kenapa, setiap selesai ngikutin acara reunian prasaan berubah jadi mello gini. Masa-masa SLTA memang masa menjadi masa yang paling sulit dilupakan.

Buat yang punya kenangan manis, pahit maupun asem :D…, dalam reuni atmosfirnya kembali ke waktu kami masih bisa berkumpul setiap hari. Barangkali karena kita sadar bahwa reuni bukan kegiatan yang terjadi setiap hari, atau setiap tahun, maka momen-momen itu menjadi spesial. Baca lebih lanjut

Nggak semua orang harus jadi blogger

Blog hanya trend sesaat, kredibilitas blog sulit dipercaya, Mengisi blog ibarat buang sampah. Itulah komentar kontrovesial yang dilontarkan “pakar telematika’ di detik.com. dampaknya banyak reaksi pro dan kontra atas komentar tersebut.

Tadinya saya nggak mau buang energi nanggapin komentar tersebut, tapi setelah dipikir-pikir lama-lama salut juga sama bapak satu itu. Point-point-nya bener-bener ngena. sebagai figur yang selalu mencari sensasi publik, ia tau betul pada titik mana ia harus memukul. “Strike thru the hart”

Baca lebih lanjut

Demoralisasi pendidikan dan desakralisasi guru

Bermula dari sebuah keluhan di suatu forum diskusi mengenai betapa menjengkelkannya perilaku anak sekarang. Hampir setiap guru menghadapi masalah serupa. Sikap kurang hormat mungkin menjurus kurang ajar, pergaulan yang terlalu bebas, dan penampilan yang sopan merupakan keluhan umum yang sering kita dengar akhir-akhir ini.

Harus diakui bahwa ada krisis etika di kalangan pelajar kita, menurut saya itulah tantangan kita sebagai pendidik sekarang, setiap generasi menghadapi tantangan dan masalahnya sendiri. dimasa lalu sikap sopan hormat yang cenderung pekewuh membuat kita mudah dikuasai pihak lain.
Baca lebih lanjut

Computer general: Chit-chat about Open Source

In couple week ago, I made a conversation with some people in the IRC channel, one of the intersting conversation with some people that use texxon as a nick name.

Honnestly, it make my eyes open and realize that in every country have a common problem like to make understand how much important technology for their live and how hard to bring them to propper apresiation about IT.

This I Copas from our part of our conversation. Mostly we talk about open source :

Baca lebih lanjut

Pendidikan: Kurikulum = Microsoft? Cape deehh….

Menjelang US tahun lalu salah satu sekolah yang kami bantu proses instalasi jaringannya saya beri bonus free instalasi LTSP server dengan ubuntu.

Meski senang, dan cukup sering digunakan beliau mengatakan masih menngajarkan siswanya aplikasi berbasis microsoft. “biar sesuai kurikulum” ujarnya.

Baca lebih lanjut

Linux: Masalah di Server Fedora Core 5

Sehari menjelang pelaksanaan online test di sekolah saya memeriksa untuk terakhir kali kesiapan server linux K12LTSP. Setelah running test, ok, terbersit untuk menambah client dengan CPU Pentium I yang tersisa untuk jaga-jaga kalau salah satu PC client bermasalah.

Setelah dipasangi lancard PXE, proses coba-coba dimulai. Ternyata belum berhasil dan muncul pesan eror ”

VFS: Cannot open root device "ram0" or 01:00
Please append a correct "root=" boot optionK ernel Panic: VFS: Unable to mount root fs on 01:00

Baca lebih lanjut

Teknologi: PDA-PDA Bandel

Sekitar 2 minggu lalu PDA gw (O2 XDA IIs), sempet nyaris tewas. Ceritanya ketika pulang ke rumah ortu di Bogor sekitar jam 4 gw ketiduran di kamar. Karena dibangunin nyokap untuk sholat ashar, gw langsung ngambil wudhu trus sholat. Abis sholat tiba-tiba hujan deres, karena genteng rumah bocor sebagai satu-satunya cowok di rumah, terpaksa gw naek ke loteng benerin genteng.

Selesai benerin genteng gw nonton tipi bereng keluarga sambil nunggu mangrib. Begitu datang magrib, langsung buka puasa. Tiba-tiba gw inget ada sms temen yg belum gw bales. Sambil nginget-nginget dimana gw naro HP, gw shalat magrib. Pas mo sholat (di kamar) keliatan HP gw di atas kasur yg digenangi air. Rupanya bocoran air dari genteng pas jatuh di atas LCD hp yang keliatan mulai kahabisa napas. Baca lebih lanjut

Linux: Living With Edubuntu (2)

Tidak ada yang akan menyangka menginstall jaringan thinstation (diskless) akan begitu mudah, sederhana dan cepat. Ini saya alami ketika berkunjung ke salah satu pesantren di Batam membantu menset jaringan untuk lab sekolahnya.

Selain set jaringan secara hardware tujuan kami sebenarnya mengerjakan jaringan thinstation berbasis server Ms Windows XP dan Ms Windows 2003. Waktu 1 minggu yang ditargetkan dengan susah payah berhasil di selesaikan dengan segala permasalahan yang ditemui. Baca lebih lanjut

Hari-hari pertama mengajar linux

Hari-hari pertama mengajar TIK menggunakan linux berjalan lancar. Para pengajar lainpun nampak tidak menemui kesulitan berarti kecuali akses internet speedy yg lebih lambat dari yang diharapkan. Sosialisasi yang dilakukan sebelumnya ternyata cukup efektif. Guru dan siswa telah dijelaskan dalam berbagai kesempatan tentang migrasi dari windows 2003 server thinstation ke Linux K12LTSP. Bahkan beberapa guru bidang studi tertentu meminta CD Linux yang kami berikan dengan senang hati.

Selain itu running test yang dilakukan pra KBM dengan spesifikasi server P4 Celeron 2.23Mhz, RAM 1 GB, diskless client 15 Pentium 1, 32 mb, plus 2 unit Pentium 2 menunjukkan performa yg cukup untuk baik untuk aplikasi browser, spreedsheet dan wordprosesor.

Baca lebih lanjut

Nginstall linux fedora core 6 di notebook Bos :D

Depok, 27 Juni 2007, tadi pagi ngadep bapak kepsek untuk presentasi 😉 migrasi lab sekolah linux. Di luar dugaan dia support banget sama usul itu. Malah notebook dia diserahin untuk di installin linux juga.

Sampe rumah, gw bongkar Cd case buat ngecek persediaan CD/DVD linux yg aq punya. Ada slackware 11, Fedore core 6 (dari infolinux) edubuntu feisty, ubuntu dapper, kubuntu 64 bit, lispire, Centos. Baca lebih lanjut

Linux: Install Edubuntu Feisty di kampung

Bogor, 16 Juni 2007, Pulang kampung saya di hidangkan komplen dari orang tua dan adik seputar komputer yang jadi virus farm. Flashdisk yang write protected, komputer yang sering hang. Data-data yang berubah jadi exe, akses internet yang lemot dan sering disconected sendiri.

Tiba-tiba muncul sebuah pemikiran, “Kenapa tidak saya coba kenalin mereka ke penguin?”. Saya Ambil tas yang berisi CD feisty, yang selalu saya bawa. Masih ada dua keping hasil “setoran” dari siswa-siswi saya. “Wah, mesti cari korban siswa yg butuh nilai perbaikan lagi nih ;)”.

Oke, tampa berkompromi dengan mereka, saya mulai pasang posisi didepan PC hibah dari saya 2 tahun lalu (Celeron 266 mhz, 20 GB HD, 160 mb memory 😀 ). Saya masukkan edubuntu feisty dan memulai proses instalasi.

Muncul menu instalasi, saya pilih opsi install sebagai workstation. Masuk ke menu pilihan partisi, saya hapus partisi windows dan saya pilih pemartisian terpandu. Komentar pertama Ayah saya “kok tulisannya bahasa indonesia wan?”. Sedang komentar adik “A, ntar foto dari hendphone bisa bisa dimasukkin nggak?, buat nambahin foto di friendster Enah”.

He..he…he, punya waktu propaganda linux sambil nunggu proses instalasi selesai nih. Sekitar 2 jam lebih proses instalasi selesai. nggak nemuin masalah yang berarti. Masuk ke desktop GNOME yang saya lakukan pertama mencek kemampuan resolusi layar, cuma sampe 800 x 600. saya cek menu sistem, pengaturan, hardware information.

USB PCI VT82xxx terdeteksi dgn baik bahkan telah support USB 2 (di XP perlu hunting driver dulu), sound card ES1370 berfungsi dengan baik. VGA Card S3 Virge DX tidak masalah. Kabar baiknya ada ditemukan device PNP USR 9190 (Berarti modem US Robotic nya terdeteksi nih). Kabar buruknya tidak ada informasi mengenai jenis monitor, barangkali memang tidak terdekteksi dan menggunakan default monitor.

Ya sudah, saya coba setting modem pada system administrasi network. masuk ke modem propertis. nomor favorit 080989999, username : telkomnet@instan dan password : telkom. Modem port di set ke /dev/ttys3, type dirubah ke : tone. kemudian di tab option saya centang option box “use the internet service provider name service”. Kemudian keluar dari modem properties, pada tab DNS di set ke : 202.134.0.155 pada tab hosts di set static ip : 192,168,0,xxx.

Ok, saatnya mencoba. saya klik kotak activate terdengar suara gemerisik. Wah belum berhasil :(. Kembali ke modem propertis, pada modem port saya pidahkan ke /dev/ttys2, kembali kemudian keluar dari kotak propertis.

Tes lagi, klik activate, terdengan nada dial yang begitu familiar. saya simpan konfigurasi dengan nama telkomnet. Lalu dengan harap-harap cemas saya klik icon mozilla firefox. pada kotak URL address diketik : http://www.google.co.id <enter>, muncullah logo google yg begitu sederhana. Logo yang sudah ribuan kali saya lihat, namun malam itu saya pandangi dengan begitu takjub.

Begitu mudah. Next, mulai berurusan dengan windows terminal. usaha berikutnya membuat tampilan resolusi 1024 x 768. #sudo gedit /etc/X11/xorg.conf <enter>. type monitor “generic”

Section “Monitor”

Identifier “Generic Monitor”

Option “DPMS”

HorizSync 28-51

VertRefresh 43-60

EndSection

Saya longok ke belakang monitor, waduh sudah tertutup pilox :(. ya sudah telusuri terus kebawah :

DefaultDepth 24

ganti ah jadi 16

Simpan, lalu restart edu buntu. login screen masih di 800 x 600, masukkan username dan password, masuk ke gnome desktop, saya cek kemampuan resolusi layar 640 x 480 ada, 800 x 600 ada, eh ada lagi diatasnya : 1024 x 768 !, saya pilih itu akhirnya ……….seperti sering saya baca di blog-blog linuxer. It’s work..!,

Sungguh pengalaman yang cukup berkesan nginstal PC modal satu CD!, kayaknya cuma linux yg bisa all in one gini.

Selanjutnya intrudoction to linux dan GPL ke ayah dan adik-adikku. Tes Flashdisk, install codec MP3 dan lainnya. nggak ada masalah. Tinggal Problem Bluetooth nih, musti beliin dulu, ada saran, jenis dan brand yg support?.*

Web Programming: Oline Test, PHP project pertamaku

Penyesalan selalu datang terlambat. Kenapa gw baru tau PHP sekarang. Tapi lebih beik terlambat daripada tidak. Awalnya ketika sekolah saya mulai terkoneksi ke intrenet. Dari situ saya mengenal CMS (Content Management System). Saat itu saya mulai ngoprek PHPNuke.

Sebagai web server saya sempet menggunakan IIS trus di instal PHP dan MySQL. Tapi beberapa waktu kemudian saya nyoba PHPTRIAD dan merasa cukup memadai dalam membangun intranet sekolah.

Selanjutnya saya mulai memperdalam web programming PHP dan database MySQL.

Untuk lebih mengenal PHP, saya mulai rajin mengoleksi buku-buku yang relevan. Selain itu saya mulai aktif bergabung dalam milis-milis dan forum diskusi. Salah satu forum diskusi yang telah sangat banyak membantu saya yaitu http://www.diskusiweb.com dari situ saya memperoleh banyak masukkan tentang bagaimana sebuah aplikasi web dibangun.

Sebagai latihan saya mencoba membangun program terapan untuk pelaksanaan tes secara online. Sedikit-demi sedikit program mulai terbentuk. Selama proses konstruksi program saya manfaatkan siswa-siswa dimana saya mengajar (SMP PGRI DEPOK II TENGAH) sebagai kelinci percobaan J. Responnya sangat baik dan memotivasi saya untuk terus menyempurnakan program online test ini.

Saat ini program online test telah memiliki banyak fitur seperti pengendalian waktu, User profile, nilai online (semacam raport), pertukaran pesan, penyajian acak atau sequential.

Selain itu program ini pun telah di manfaatkan oleh beberapa lembaga yang saya sebarkan berdasarkan hubungan relasi secara gratis. Kenapa gratis, karena saya berhutang kepada komunitas pendukung GPL yang telah menshare ilmu mereka tampa berharap imbalan.

Kebahagiaan yang saya rasakan ketika para siswa saya meresakan manfaat dari hasil jerih payah kita merupakan imbalan yang lebih berharga dari materi apapun.

Saat ini saya sedang mempelajari metode pemrogrammman berbasis OOP (Object Oriented Programming) agar pengembangan aplikasi yang saya bangun lebih terstruktur dan memungkinkan volunteer lain memberi kontribusinya*.

Living with: Linux Edubuntu (1)

Terus terang saya tidak begitu berharap banyak. Hari-hari saya lalui dengan rutinitas mengelola lab sekolah yang berbasis windows 2003 server (Thinstation). Saya sudah cukup puas dengan segala keterbatasan kemampuan finansial sekolah kami bisa menyediakan akses internet pada PC-PC lama (Pentium I) sambil ngoprek web intranet berbasis PHP MySql.

Suatu pagi, ketika saya memasuki lab sekolah, dimeja saya tergeletak sebuah bungkisan kertas yang cukup tebal dengan cetakan alamat di depannya. Ketika saya ambil ternyata sebuah kiriman pos dari Belanda yang berisi 5 CD edubuntu 6. 05 Dapper Drake.

Penasaran saya masukkan CD tersebut ke dalam CD-drve di komputer server, pada pilihan menu awal, sapa pilih boot from harrdisk. Kemudian saya baca baca dokumentasi yang tersedia.

Setelah melakukan persiapan partisi sesuai petunjuk teman, saya mulai menginstal CD tersebut ke server dengan tujuan menjadikan server sekolah dual boot.

Setting IP addresss dan DHCP tidak begitu sulit karena tidak jauh berbeda dengan windows 2003 server. Proses instalasi pun so far so good.

Selesai instalasi, PC mereboot secara otomatis dan kemudian masuk ke grub boot loader. Setelah masuk ke login screen, masalah mulai muncul…. Saya tidak bisa login dengan akses root. Bingung, saya telepon teman yang sudah cukup familiar dengan linux. Akhirnya saya berhasil masuk ke tampilan x windows Gnome edubuntu.

Wah lumayan menarik. saya coba berbagai aplikasi yang ada, terutama edutainment. Lalu saya tes browser untuk mengases internet. tidak ada masalah.*