Cerita Tempayan retak

Saya masih ingat dua tahun lalu saya memberi tugas murid-murid saya mencari berbagai artikel di internet tentang beberapa subyek yang ditentukan. Salah satu kelompok saya tugaskan mencari artikel tentang bunga. Saat dikumpulkan salah satunya cerita ini. memang bukan tulisan yang saya maksud, tapi ketika saya baca ternyata menarik juga.

Seorang tukang air memiliki dua tempayan air yang selalu dibawanya dengan cara diikat pada kayu, yang kemudian disanggah menyilang di bahunya. Namun, salah satu tempayan yang dimilikinya retak, sehingga hanya bisa menampung setengah isi saja setiap kali tiba di tempat tujuan.
Hal tersebut telah berlangsung selama dua tahun. Akibatnya, selama itu, tukang air hanya mampu membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Menyadari itu, tempayan retak merasa sedih dan malu, karena dia tak bisa menampung air penuh untuk membantu pekerjaan tuannya, si tukang air. Berbeda dengan tempayan tak retak, yang dengan bangganya mengatakan bahwa dialah yang paling berjasa kepada si tukang air, sebab selalu menampung setempayan penuh air dari mata air ke rumah majikan si tukang air.
”Sungguh aku minta maaf kepadamu tukang air”, kata tempayan retak suatu hari.
“Kenapa kau minta maaf?” tanya si tukang air.
”Karena aku malu…”, jawab tempayan retak.
”Kenapa kau merasa malu?”
”Karena aku retak, sehingga selama dua tahun ini, aku hanya bisa membawa setengah isi tempayan. Gara-gara aku cacat, aku telah membuatmu rugi”, sesal tempayan retak.
Mendengar itu, tukang air berkata, “Besok, aku ingin kau memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan dari mata air menuju rumah majikanku!”
Ternyata, benar kata si tukang air. Keesokan harinya, sepanjang perjalanan dari mata air menuju rumh majikan tukang air, tempayan retak melihat bunga-bunga indah di sisi jalan yang dia lalui. Meski setiap hari dia melewati jalur yang sama, namun selama ini dia tak pernah memperhatikannya. Maka, untuk sementara, dia mampu melupakan kesedihan yang diakibatkan oleh cacatnya itu.
Tapi, begitu sampai di rumah majikan tukang air, tempayan air mendadak sedih kembali. Dia teringat bahwa sepanjang jalan tadi, air yang ditampungnya berceceran, sehingga lagi-lagi dia hanya mampu membawa pulang separuhnya saja.
”Tukang air, aku benar-benar minta maaf kepadamu”, katanya sedih.
“Apakah kau telah benar-benar memperhatikan bunga-bunga di sepanjang jalan yang kita lalui tadi?” tanya si tukang air.
”Iya, aku memang memperhatikan banyak bunga-bunga indah tadi.”
”Tahukah kau, bahwa bunga-bunga itu hanya tumbuh di sisi jalan yang kau lalui saja, sementara di sisi jalan, dimana tempayanku yang tak retak lewati, tak satupun bunga tumbuh. Sebenarnya, selama dua tahun ini aku menyadari cacatmu. Meski begitu, aku memanfaatkannya. Aku menanam benih-benih di sepanjang jalan di sisimu berada, dan aku memanfaatkanmu untuk mengairi benih-benih itu. Benih-benih itu kemudian tumbuh menjadi bunga-bunga cantik, dan aku rutin memetiknya untuk menghias rumah majikanku. Untuk itu aku mendapat tambahan upah. Semua itu berkat jasamu. Jadi, jangan pernah kau sesali keadaanmu itu, sebab sesungguhnya tanpa kau sadari kau pun memiliki jasa besar kepadaku”, jelas tukang air.


Pelajaran buat saya, jangan terburu kecewa jika mereka tidak memperoleh atau mengerjakkan apa yang kita harapkan. “I ask them flower…, and they gave me diamonds….”, makasih anak-anak.

2 thoughts on “Cerita Tempayan retak

  1. pvrpl3g1rl

    it’s a great story,indeed…
    kita tlalu sering fokus thadap kekurangan qt,drpada kelebihan yg Allah titipkan…
    a valuable reminder…
    xie xie…:-)

    Balas
  2. Yani

    iya nih… aku juga sering memanfaatkan kelemahan ku untuk menghindari hal-hal buruk.. ada ceritanya juga… yang laen punya cerita ga tentang memanfaatkan kelemahan sendiri untuk mencapai kemenangan?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s