Fight Against Limitation

image_00003Tanpa maksud tidak mesyukuri apa yang sudah kami miliki, keterbatasan acap memberikan tekanan yang begitu berat untuk dipikul, especially ketika kita merasa dibiarkan sendiri memikul semua sendiri sementara tuntutan untuk tetap menjadikan sarana IT sebagai salah satu produk unggulan sekolah begitu di tekankan.

Pun tidak bermaksud cengeng ketika keinginan yang tidak dipenuhi seperti kebutuhan proyektor di labkom kami dan pengembangan jaringan wireless sekolah kembali dikesampingkan demi pembangunan lokal-lokal baru.

Belum cukup cobaan yang kami hadapi, AC lama yang meski kurang dingin cukup memberi suplai oksigen tidak bisa difungsikan, akibat beban listrik yang begitu besar sehingga membakar kabel yang tidak tahan mengaliri arus dan hampir berakibat kebakaran jika tidak segera disiram air.

Maka disnilah kami sekarang, lab sekolah dengan 42 PC, 2 printer bekas (hp 670, dan 640), harus melayani 1020 siswa. Ternyata tidak mudah menerangkan sebuah materi bahasan ke 40 lebih siswa yang begitu duduk langsung terfokus pada monitor masing-masing.

Ada rasa marah karena akibat ketimpangan tuntutan dan ketersediaan, khawatir akan terjadi kerusakan akibat suhu panas yang jelas akan menurunkan daya tahan peralatan elektronis yang ada di dalam lab, putus asa ketika proses pembelajaran tersendat karena sulitnya bagi siswa dan guru berkonsentrasi akibat mulai banjir keringat dalam 10 menit awal pembelajaran.

Meski seluruh pelayanan hingga hari ini masih berjalan (akses komputer dan internet, free printing dengan 95 persen komputer masih hidup), tinggal menunggu waktu keluhan siswa yang masuk di intranet sekolah. Jujur, ini masa-masa krisis di lab sekolah kami, sampai sejauh mana kami bersama komputer-komputer second yang ada bisa bertahan, kalau ngikutin emosi saya ingin bilang dukungan teknologi disekolah kami sedang bergerak mundur ke zaman batu (eh, keluar juga :D).

Bagaimanapun ini masalah yang kami hadapi para guru TIK dan laboran sekolah, pelayanan pendidikan harus terus berjalan seoptimal mungkin. Meski situasi ini memberi tekanan psikologis dan tantangan besar terhadap idealisme, integritas loyalitas kami sebagai guru terhadap anak didik, Sampai kapan?, karena hingga titik tertentu kami harus mulai realistis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s